Virus corona: Bagaimana perawatan terhadap pasien terjangkit?

Pasien yang mengalami pneumonia - seperti yang dialami pasien ini di Wuhan - mungkin memerlukan alat bantu pernapasan.

Orang-orang yang dipastikan terjangkit virus corona tengah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun, perawatan macam apa yang mereka jalani dan seberapa efektif perawatan tersebut?

Virus apa yang mewabah di China?


Virus yang dinamai 2019-nCoV tersebut sejauh ini telah menewaskan 170 orang di China dan menginfeksi lebih dari 7.000 orang. Virus yang sama juga sudah menyebar ke 16 negara lain.

Virus ini merupakan jenis virus corona yang baru dikenali. Manusia yang terjangkit menunjukkan gejala-gejala seperti flu, termasuk demam, batuk, dan masalah pada pernapasan.


Banyak orang yang tertular virus baru ini hanya menampilkan gejala ringan, dan sebagian besar diperkirakan akan sembuh.

Namun, seperti Sars (yang juga sejenis virus corona) dan influenza, virus baru ini tampak menghadirkan risiko lebih besar terhadap lansia dan mereka yang sudah mengidap penyakit lain.

Sejauh ini belum ada obat penyembuh, seperti halnya tidak ada obat penyembuh untuk flu biasa.

Seorang petugas mempersiapkan peralatan untuk tindakan medis pasien terinfeksi virus corona Wuhan di ruang isolasi instalasi paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Kota Dumai, Riau, Sabtu (25/01).

Apa yang terjadi di rumah sakit?


Mereka yang dirawat inap diberikan perawatan untuk melawan gejala-gejala penyakit, selagi sistem kekebalan tubuh mereka memerangi virus.

Rawat inap juga bertujuan mengisolasi para pasien dan menghentikan penyebaran virus, kata Prof Jonathan Ball selaku ahli virus dari Universitas Nottingham.

Dalam kasus-kasus parah, virus ini bisa menyebabkan pneumonia—peradangan paru-paru. Dalam kasus-kasus tersebut, pasien harus mendapat alat bantu agar bisa bernapas, kata Prof Ball.

Para pasien juga diberikan oksigen dan dalam kasus terburuk, dipasangi ventilator. Sekitar satu dari setiap empat kasus diperkirakan tergolong parah.

"Jika seorang pasien menunjukkan gejala [kesulitan] bernapas, mereka [pihak rumah sakit] akan memberi bantuan untuk bernapas. Jika ada tekanan pada organ tubuh, mereka akan mencoba mendukung tubuh untuk meringankan tekanan," kata Prof Ball.

Dalam kasus-kasus yang lebh ringan, pasien kesulitan mempertahankan tekanan darah sehingga bisa diberikan cairan infus. Cairan juga bisa diberikan dalam kasus diare dan ibuprofen tersedia untuk meredakan nyeri.

Zhang Dingyu, direktur Rumah Sakit Wuhan Jinyintan, mengatakan kepada stasiun televisi pemerintah China CCTV bahwa pasien-pasien yang pulih berada dalam "kondisi baik".

Beberapa pasien mungkin punya masalah paru-paru, namun menurutnya "saya optimistis mereka bisa pulih".

Petugas medis keluar dari ruang isolasi khusus untuk pasien airborne yang disiapkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi, Solo, Jawa Tengah, Senin (27/1/2020).

Apakah obat HIV bisa membantu?


Meski tidak ada vaksin untuk melawan virus corona jenis baru, serangkaian uji coba berlangsung di China untuk melihat apakah dua obat antivirus yang dipakai untuk menangani HIV, lopinavir dan ritonavir, bisa menjadi pengobatan efektif.

Kedua obat ini digunakan untuk membantu memerangi virus Sars pada 2003, setelah pasien-pasien HIV yang mengonsumsi obat-obatan tersebut dan terpapar Sars memperlihatkan hasil lebih baik.


Harapannya adalah Sars dan virus corona jenis baru cukup mirip sehingga kedua obat itu bisa berfungsi, kata Prof Ball.

"Jika ada tanda-tanda awal obat itu bisa bekerja baik, obat tersebut mungkin dipakai secara belas kasihan dalam kasus-kasus parah karena obat-obatan itu belum disetujui penggunaannya [untuk melawan virus corona jenis baru]."

"Penggunaan belas kasihan" atau compassionate use adalah istilah yang dipakai ketika obat yang belum disetujui kemudian disediakan, di bawah pengawasan ketat, kepada pasien yang sakit parah.

Bagaimana kemajuan penelitian vaksin?


Vaksin sedang dikembangkan, namun hasilnya secara realistis dapat disimpulkan beberapa tahun lagi.

Meski sudah ada riset Sars dan Mers, yang muncul pada 2003 dan 2012, belum ada vaksin untuk kedua virus itu.

Setiap vaksin harus teruji efektif dan aman bagi hewan, baru kemudian manusia, dan diberi lisensi, kata Prof Ball.

Sebelum diberikan kepada siapapun, WHO harus menyetujuinya, kecuali diberikan menggunakan dasar belas kasihan.

"Teorinya, vaksin baru tersedia dalam setahun atau dua tahun mendatang. Yang pasti tidak ada dalam enam bulan ke depan," ujar Prof Ball.
DONASI VIA PAYPAL Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi Anda membantu Admin untuk lebih giat lagi dalam membagikan template blog yang berkualitas. Terima kasih.
Postingan Lebih Baru Postingan Lebih Baru Postingan Lama Postingan Lama

Postingan lainnya

Komentar

Posting Komentar