Virus corona: Kisah cemas mereka yang kerja di perusahaan China dan yang menghadapi stigmasisasi saat pulang ke Indonesia

Petugas Karantina Kesehatan Pelabuhan Kupang memeriksa kesehatan enam warga negara China di Lantamal VII Kupang, NTT, Kamis (30/01)

Riuh rendah informasi terjadi di media sosial, 23 Januari lalu, saat seorang pekerja di Gedung BRI 2, di bilangan Sudirman, Jakarta, diduga mengalami gejala infeksi virus corona.

Walau belakangan karyawan perusahaan telekomunikasi asal China itu dinyatakan tidak terjangkit virus corona, kecemasan merebak ke publik.

"Kamis itu langsung dibagikan masker untuk karyawan," kata Royadi, seorang pegawai swasta yang berkantor di sekitar Gedung BRI 2.


Pada waktu yang sama, di kawasan bisnis Jakarta Selatan, beberapa pengelola gedung mengambil kebijakan darurat terhadap setiap perusahaan penyewa ruang kantor mereka.

Manajemen gedung meminta daftar karyawan atau tamu perusahaan yang dalam dua pekan terakhir datang dari Wuhan dan kota terjangkit virus corona lainnya di China.

Sepekan usai kehebohan itu, kekhawatiran terhadap virus corona masih tersisa di antara pegawai perusahaan asing, terutama yang bekerja di korporasi asal China.

Berdasarkan riset Ombudsman, Jakarta adalah satu dari 10 daerah dengan jumlah pekerja berkewarganegaraan asing terbanyak di Indonesia.

"Tentu saya khawatir, tapi saya mencegah virus dengan mengenakan masker dan minum vitamin setiap hari," kata Adnan, seorang pegawai di perusahaan asal China.

"Kantor saya menyediakan cairan pembersih tangan. Bos juga belum pulang dari China, tapi saya belum berpikir untuk kerja dari rumah," ucapnya.

Para penumpang pesawat asal China mengenakan masker saat tiba di Bandara Hang Nadim, Batam, 28 Januari lalu

Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, tahun 2018 terdapat 95.335 tenaga kerja asing di Indonesia.

Dari angka itu, sekitar 32.000 di antaranya berasal dari China.

Salah satu kantong pekerja asal China itu adalah Kabupaten Morowali di Sulawesi Tenggara.

Setidaknya 5.390 pekerja dari China bekerja di kawasan pertambangan dan pengolahan nikel milik PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Sejak virus corona menjangkiti Wuhan dan sejumlah kota di China serta belasan negara lainnya, kecemasan juga merebak di Morowali.

Namun, kata Dedi Kurniawan, juru bicara PT IMIP, ketakutan di kalangan pekerjanya dipicu berbagai informasi yang tidak benar tentang virus corona.

"Sempat terjadi kehebohan, terlalu banyak hoax, tapi yang menyebarkan tidak berada di sini," kata Dedi via telepon.

"Kekhawatiran itu sempat mempengaruhi karyawan, tapi mereka sekarang sudah tenang karena tahu manajemen melakukan pencegahan," tuturnya.

Tim medis mengevakuasi pasien di dalam mobil ambulans menuju Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi saat simulasi penanganan wabah virus novel Coronavirus di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/01)

Yang mudik Imlek dilarang kembali


Sekitar 300 pekerja asal China di PT IMIP pun terdampak mitigasi penyebaran virus corona yang ditetapkan pemerintah Morowali dan perusahaan.

Dedi berkata, per 25 Januari lalu, mereka yang mudik ke China pada libur Imlek tidak diizinkan kembali ke Morowali hingga waktu yang belum ditentukan. Ketentuan itu berlaku tidak hanya untuk pekerja yang mudik ke Wuhan.

"Kalau pemerintah mengatakan kondisi sudah aman, kebijakan itu akan kami ubah," ujar Dedi.

Operasional pertambangan dan pengolahan nikel di kawasan industri itu diyakini bakal terdampak karena ratusan posisi lowong ditinggal sementara oleh pekerja asal China tersebut.

Manajamen PT IMIP, kata Dedi, terpaksa merotasi tugas pegawai agar proses produksi mereka tetap berjalan.

Dedi mengklaim perusahaannya menyiagakan 16 dokter untuk memeriksa kesehatan sekitar 38.000 pekerja di kawasan industri nikel tersebut. Proses pengecekan itu disebutnya bakal memakan waktu panjang.

"Kami juga menempatkan alat pengukur suhu tubuh di pelabuhan dan bandara perusahaan. Di klinik kami sudah sediakan 35 kamar isolasi," ucap Dedi.

Petugas medis berjaga di pusat karantina kesehatan Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Mereka disiagakan untuk mengawasi penumpang yang terjangkit virus corona

Dokter Fera Ibrahim dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mendorong setiap perusahaan mendata aktivitas para pekerja asing yang baru masuk ke Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut Fera, pendataan itu vital dalam mengawasi potensi penyebaran virus corona. "Screening dilakukan di bandara. Tapi belum mengalami gejala demam, tidak terdeteksi," ujarnya.

"Buat kuisoner untuk menanyakan kegiatan mereka di sana apa saja dan pergi ke mana saja.

Dengan kuisoner, akan diketahui siapa yang paling berisiko tinggi terjangkit," kata Fera.

Fera menuturkan, masa inkubasi virus corona di tubuh manusia berlangsung paling lama 14 hari. Begitu terpapar, orang itu belum tentu langung demam, batuk, atau sesak nafas.


Saya dituduh terjangkit corona


Mahasiswi asal Aceh, Maulida, menjalani pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh, setibanya dari Kota Kaifeng, China, Rabu (29/01)

Tengah pekan ini, lima mahasiswa Aceh yang menempuh studi di China memutuskan kembali ke Indonesia.

Meski berhasil keluar dari China dalam keadaan sehat, mereka menghadapi masalah baru: stigma masyarakat yang kelewat cemas terhadap virus corona.

"Saya pulang dengan kondisi fisik dan mental yang sehat 100%, tapi saat tiba di kampung sendiri, mental saya turun," kata Muhammad Sahuddin, satu dari lima mahasiswa itu, kepada Hidayatullah, wartawan di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Saya tertekan karena stigma virus, padahal saya dan teman lainnya pulang dalam keadaan sehat," ujarnya.

Muhammad Sahuddin, warga Aceh Barat Daya, sedang menempuh studi doktoral di Nanjing Normal University, China. Ia tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh, 28 Januari lalu, lewat Kuala Lumpur, Malaysia.

"Beredar isu tidak benar di masyarakat (tentang virus corona) yang membuat saya menunda kepulangan ke kampung halaman untuk bertemu anak, istri, dan keluarga lainnya," kata Sahuddin.

"Saya memilih bertahan di Banda Aceh meski RSU Zainal Abidin menyatakan saya sehat. Ini saya lakukan agar masyarakat di kampung tidak berpikir yang macam-macam terhadap saya dan keluarga," ucapnya.

Mahasiswa asal Aceh, Zamzami (kedua kiri) mengantre pemeriksaan di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh, Rabu (29/01). Zamzami merupakan mahasiswa gelombang pertama yang turut pulang dari Hongkong menyusul merebaknya virus corona

Jangan khawatir berlebihan


Bagaimanapun, kata Erlina Burhan, dokter spesialis paru-paru di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, tingkat kematian akibat virus corona sangat rendah.

Erlina berkata, orang yang terinfeksi virus ini bisa sembuh walau belum ada vaksin yang dibuat khusus untuk menjinakkannya.

"Kalau infeksi ringan, peluang kesembuhannya besar sekali. Yang kategori berat cirinya jumlah virus banyak dan sistem imun sangat rendah. Itulah yang menimbulkan kematian," ucapnya.

Sebagian besar korban meninggal dalam kasus virus corona, kata Erlina, merupakan orang-orang berusia lanjut yang sistem imun tubuhnya rendah karena mengidap penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, gagal ginjal, dan stroke.

"Fatalitasnya virus corona rendah, antara 3-5%. Ada lebih dari 6000 kasus, kematian mencapai 130-an kasus, dan semuanya di China."

"Bandingkan dengan flu burung yang tingkat kematiannya di atas 80%. Di Indonesia belum ada kasusnya tapi heboh luar biasa," kata Erlina, dokter di satu dari tiga rumah sakit yang dirujuk Kementerian Kesehatan menangani pasien terjangkit virus corona.

Meski begitu, pencegahan dengan cara menjaga kebersihan tubuh disebutnya tetap penting. Selalu menyantap makanan berbahan daging yang matang dan menghindari kontak erat dengan pasien terjangkit virus corona adalah kunci lainnya.
DONASI VIA PAYPAL Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi Anda membantu Admin untuk lebih giat lagi dalam membagikan template blog yang berkualitas. Terima kasih.
Postingan Lebih Baru Postingan Lebih Baru Postingan Lama Postingan Lama

Postingan lainnya

Komentar

Posting Komentar