Makhluk Menyerupai Naga Yang Pernah Di Temukan Hidup Di Wilayah Kalimantan -->

Makhluk Menyerupai Naga Yang Pernah Di Temukan Hidup Di Wilayah Kalimantan

Siapa yang tidak menyangkan bahwa di dunia ini terdapat beberapa spesies Reptil Mirip Naga yang pernah ditemukan sepanjang sejarah. Melainkan bukan naga asli seperti dalam kisah-kisah dongeng yang pernah diceritakan selama ini. Namun ciri-ciri dari hewan tersebut bisa dibilang hampir mirip seperti seekor naga.

Naga, siapa yang tidak tahu dengan hewan mistis ini. Dragon atau secara umum diketahui sebagai naga di Indonesia, adalah sebuah makhluk raksasa mitologi yang berwujud sebagai reptil. Di dalam setiap kebudayaan di dunia ini terdapat cerita yang mengisahkan tentang naga. atau pun peperangan antara manusia dengan makhluk mitologi tersebut.

Umumnya naga berwujud seekor ular raksasa, tapi sebagian besar orang di dunia menggambarkan naga sebagai kadal bersayap. Dalam beberapa cerita bahkan mengisahkan naga memiliki lebih dari satu kepala yang bisa menghembuskan api, habitatnya bisa di air, darat, atau udara.

Meskipun penggambaran wujud naga berbeda-beda tapi secara umum makhluk tersebut digambarkan sebagai makhluk yang sakti. Ternyata ada sejumlah naga yang masih ada di dalam dunia nyata.

Naga Sesungguhnya Yang Ada Di Dunia Nyata

Pada waktu beberapa tahun lalu di Indonesia sempat digegerkan tentang penampakan sesosok Makhluk Menyerupai Naga Di Kalimantan. Diketahui sosok hewan tersebut tidak hanya ada di Indonesia saja, melainkan spesies tersebut juga pernah ditemukan disekitar wilayah Malaysia. Ingin tahu seperti apakah jenis-jenis hewan yang mirip dengan naga, di bawah ini adalah penjelasan lengkapnya.

1. Lanthanotus Borneensis

Kalau kalian belum pernah mendengar tentang tak bertelinga biawak, kalian tidak sendirian. Satwa misterius ini memang luput dari perhatian publik, karena memang secara alami satwa ini tidak muncul disiang hari dan membangun sarang di bawah tanah.

Namun setidaknya beberapa tahun terakhir, reptil ini mulai populer di seluruh dunia berkat foto-fotonya yang di unduh di media sosial. Inilah biawak tidak bertelinga atau Lanthanotus Borneensis, atau dalam bahasa Inggris dinamakan Earless Monitor Lizard.

Biawak ini menjadi satu-satunya anggota dari famili Lanthanotidae yang hanya ditemui endemik di Kalimantan. Sejak penemuan pertamanya pada tahun 1877, semua catatan keberadaan biawak tak bertelinga tersebut merujuk ke Sarawak (Borneo, Malaysia).

Penemuan fosil hidup belakangan ini ditemukan disebuah kebun sawit yang sedang dibangun di hutan Tembawang,  Kabupaten Landak, Kalimantan Barat yang memperluas distribusi populasinya hingga ke arah selatan Kalimantan.

Bukan tidak mungkin spesies ini akan ditemukan ditempat lain di Kalimantan. Para peneliti sering menjulukinya sebagai Living Fossil, karena hewan ini masih ada di kala hewan-hewan lain yang seumuran sudah banyak yang punah.

Sejak tahun 1877 hingga 1961 hanya 12 spesimen yang telah ditemukan dan hanya sekitar 100 dari kadal ini yang pernah dikumpulkan. Sebagian besar informasi yang dipublikasikan tentang Lanthanotus Borneensis, hanya berdasarkan laporan observasi perilaku spesimen tunggal yang disimpan di penangkaran dan sedikit saja yang diketahui tentang perilakunya di habitat aslinya.

Baca Juga : 5 Pesta Maksiat Yang Paling Bejat Dan Paling Nyeleneh Yang Pernah Ada Di Masa Lalu

Biawak tak bertelinga dapat ditemukan di daerah dekat dengan sungai, karena merupakan hewan semiaquatik yang kadang hidup di air dan kadang di darat. Karena nokturnal alias hewan yang aktif pada malam hari, sehingga sangat jarang muncul.

Oleh karena itu membuatnya masih menjadi hewan yang misterius, karena perilaku atau kebiasaan hidupnya kurang bisa diamati. Ciri umum satwa ini adalah tidak ada lipatan gular, hidung tumpul, dan tidak adanya telinga eksternal atau indera pendengaran lain yang terlihat.

Meski tentu saja tetap bisa mendengar. Panjang tubuhnya bisa mencapai 45 CM hingga 55 CM, selain itu kelopak matanya transparan dan letaknya yang lebih rendah dari biawak atau kadal jenis lain. Ciri yang paling mudah dilihat adalah kulit luarnya yang dipenuhi dengan gerigi-gerigi seperti pada buaya, yang tersusun secara teratur berbentuk garis mulai dari bagian kepala sampai pada ekornya yang cukup panjang.

Warna kulit hewan ini adalah cokelat tua pada bagian atas, dan berwarna cokelat aga muda pada bagian perutnya. Satwa ini memiliki empat kaki di depan dan di belakang, dan disetiap kakinya terdapat lima jari dengan kuku yang tajam.

Biawak tak bertelinga merupakan reptil yang berkembang biak secara bertelur. Para ahli memperkirakan bahwa rentang populasi biawak tak bertelinga ini mungkin hanya ada di Sarawak (Malaysia) dan Kalimantan Barat.

Meski begitu kurangnya penelitian dan pengetahuan mengenai satwa misterius ini, termasuk pola penyebaran dan jumlah populasinya menyebabkannya kesulitan memastikan penyebarannya. Satwa ini juga tidak atau belum masuk dalam daftar IUCN Redlist pada 2012, yang jelas ahli fungsi hutan yang menjadi habitatnya yang terus berlangsung hingga kini mengancam populasinya.

Penemuan-penemuan satwa ini dimendatang bisa jadi tak terdokumentasikan, ada baiknya pihak swasta atau industri pemanfaatan hutan bisa berperan penting dalam proses identifikasi satwa, seperti biawak yang tak bertelinga. Yang informasi tentangnya sangat terbatas hingga kini.

2. Olm

Olm atau Proteus Anguinus adalah nama dari jenis hewan yang bentuknya seperti gabungan antara belut dan kadal. Seperti halnya belut, olm memiliki tubuh yang panjang dan hidup di dalam air. Namun seperti halnya kadal, olm memiliki dua pasang kaki berukuran pendek di kedua sisi tubuhnya.

Olm sendiri oleh para ahli dikategorikan sebagai sejenis amfibi, tepatnya salamder. Dan karena habitat asli olm berada di dalam gua, hewan ini juga dikenal dengan nama salamder gua atau cave salamander.

Olm hanya ditemukan di dalam gua yang terletak di wilayah barat negara-negara Balkan, mulai dari Slovenia, Kroasia, hingga Bosnia & Herzegovina. Di dalam gua-gua tersebut terdapat sungai dan danau yang menjadi tempat hidup bagi olm, karena habitat olm nyaris selalu berada dalam kondisi gelap gulita. Mata olm nyaris tidak berguna dan tersembunyi di bawah kulitnya.

Namun sebagai gantinya olm memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap getaran dan perubahan kadar kimia saat berada di dalam air. Dari segi fisik olm dapat dikenali dengan melihat tubuhnya yang panjang dan kepalanya yang lonjong, dibagian pangkal kepalanya terdapat benda yang menyerupai bulu yang aslinya merupakan insang olm.

Menariknya olm juga memiliki paru-paru kendati olm lebih sering menggunakan insangnya untuk bernafas. Kaki depannya masing-masing memiliki tiga jari, sementara kaki belakangnya hanya memiliki dua jari.

Olm berenang dengan cara melenggak-lenggokkan tubuhnya sambil merapatkan kakinya ke sisi badan. Olm memiliki panjang maksimal 30 CM, kulit olm berwarna putih pucat akibat nyaris tidak adanya pigmen pada kulitnya. Namun jika terpapar oleh cahaya, kulit olm akan berubah menjadi keunguan dan baru kembali berubah menjadi terang ketika sudah tidak lagi terkena cahaya.

Insang olm disisi lain berwarna merah karena penuh dengan sel-sel darah. Khusus untuk olm dari subspesies Proteus Anguinus Parkelj, mereka memiliki kulit berwarna hitam dan mata yang terlihat jelas.

Olm adalah hewan karnivora alias pemakan daging, makanannya terdiri dari hewan-hewan kecil penghuni perairan gua seperti udang air tawar, siput, dan larva serangga. Di dalam tangkapan olm juga mau memakan ikan dan potongan daging merah.

Olm paling banyak ditemukan di kedalaman 300 meter dengan suhu antara 5 hingga 15 derajat celcius. Saat musim hujan tiba dan air di dalam gua meluap, tidak jarang olm terseret arus hingga terbawa ke luar gua.

Karena penampilannya yang begitu unik, warga setempat di masa silam sempat mengira kalau olm adalah bayi naga yang hidup di bawah permukaan bumi. Karena habitat olm cukup terisolasi dari dunia luar, olm diperkirakan tidak memiliki musuh alaminya.

Baca Juga : Dijuluki Sebagai Penjara Paling Indah Dan Mewah, Bahkan Fasilitas Di Penjara Ini Setara Dengan Hotel Berbintang

Namun disisi lain hal tersebut juga menyebabkan habitat tinggal olm cukup langka akan makanan, untuk mengatasinya olm pun memiliki metabolisme tubuh yang lambat. Olm juga bisa menyerap jaringan tubuhnya sendiri ketika makanan sedang sulit di dapatkan.

Lalu berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan oleh seorang peneliti, seekor olm dilaporkan bisa hidup tanpa makanan selama 12 tahun. Saat musim kawin tiba, olm jantan akan menunjukkan sifat posesif akan di wilayahnya sendiri dan akan mengusir pejantan lain yang memasuki wilayahnya.

Jika ada olm betina yang memasuki wilayah pejantan dan menyukai wilayahnya, keduanya kemudian akan melakukan perkawinan. Saat ritual kawin berlangsung, pejantan akan melepaskan kantong sperma ke dalam air. Betina lalu memungut kantong sperma tersebut dengan cara memasukannya ke dalam lubang kloaka miliknya.

Sperma tadi kemudian akan disimpan dalam kantong khusus dalam tubuh betina yang bernama Spermateka. Sekitar dua hingga tiga hari sesudah melakukan perkawinan, betina akan mulai mengeluarkan telur-telur yang sudah di buahi.

Telur-telur tersebut dikeluarkan di suatu lokasi yang berada di luar wilayah pejantan. Jumlah telur yang dikeluarkan oleh olm betina bisa mencapai 70 butir, namun rata-rata jumlah telur yang dihasilkan oleh betina hanya sekitar setengahnya.

Bergantung dari suhu lingkungannya, telur-telur tersebut memerlukan waktu antara dua hingga enam bulan untuk menetas. Begitu menetas bayi-bayi olm sudah harus hidup mandiri. Tidak seperti hewan amfibi lain semisal katak, olm tidak mengalami metamorfosis dan tetap mempertahankan sejumlah ciri fisik bayinya selama bertumbuh.

Seperti contoh organ insang olm tidak menghilang saat dewasa dan tetap digunakan sebagai alat pernafasan utama. Olm memiliki laju pertumbuhan yang lambat untuk hewan seukurannya, pasalnya hewan ini baru mengalami kematangan seksual pada usia sekitar 15 tahun.

Tidak diketahui secara pasti berapa usia maksimum olm, namun mereka dipercaya bisa hidup hingga usia lebih dari 100 tahun. Olm yang hidup di dalam tangkapan sendiri diketahui memiliki usia rata-rata 68 tahun.

Sebagai akibat dari habitatnya yang begitu khusus, olm memiliki populasi dan persebaran yang terbatas. Sebagai akibatnya olm sangat mudah mengalami kematian massal, jika perairan gua tempatnya hidup tercemar oleh rembesan air yang mengandung bahan-bahan berbahaya.

Belakangan olm juga diambil dari habitat aslinya untuk dijual sebagai hewan peliharaan eksotis. Untuk mencegah olm mengalami kepunahan seutuhnya pemerintah Slovenia dan Kroasia sudah menetapkan olm sebagai hewan yang dilindungi.

3. Dragonsnake

Pernah membayangkan bagaimana naga dikombinasikan dengan ular, boleh jadi hasil kawin silang ini akan menghasilkan Dragonsnake atau yang sering disebut ular lumpur ini. Ular satu ini memang mempunyai karakteristik naga ditubuhnya, meskipun tubuhnya memanjang tapi ia mempunyai sisik tegas disekujur tubuhnya.

Beruntung sekali ular ini punya daerah penyebaran di Indonesia dan Malaysia, sehingga kamu bisa melihat makhluk cantik ini kapanpun. Terutama jika kamu tengah berada di persawahan atau hutan, dragonsnake cukup berbisa meskipun tidak terlalu beracun.

Baca Juga : Orang Kaya Mah Bebas, Bocah SMA Ini Ke Sekolah Bawa Mobil Mewah

Hewan ini bisa memanjang hingga 60 CM paling besar, dragonsnake termasuk kategori hewan nokturnal alias aktif di malam hari. Makanan utamanya adalah katak serta kadal kecil.

4. Komodo

Inilah naga berbentuk reptil raksasa, panjangnya bisa mencapai 3 meter dengan berat 70 KG. Meski tidak menyemburkan api, namun mampu membunuh dan memakan kijang atau kerbau dengan mulutnya dengan cara air liur komodo yang beracun itu ia semprotkan ke luka korban yang sebelumnya telah ia gigit dengan giginya yang setajam pisau.

Reptil besar ini dapat berlari hingga 20 km/jam pada jarak pendek, berenang dan mampu menyelam sedalam 4,5 meter. serta bisa memanjat pohon dengan cakarnya yang kuat. Untuk menangkap mangsa yang berada di luar jangkauan, komodo dapat berdiri menggunakan kaki belakangnya dan ekornya sebagai penunjang.

Baca Juga : Ternyata Terdapat 5 Kisah Dibalik Awal Film Disney Itu Mengerikan

Komodo atau Varanus Komodoensis pertama kali di dokumentasikan pada tahun 1910, namun meluas setelah Peter Ouwens direktur Museum Zoologi di Bogor tahun 1912 menerbitkan paper tentang komodo setelah ia menerima foto dan kulit reptil ini.

Alasan ini lah yang mendorong dilakukannya ekspedisi ke pulau komodo oleh W. Douglas Burden pada tahun 1926. Setelah kembali dengan 12 spesimen yang diawetkan dan 2 ekor komodo hidup. Ekspedisi ini menginspirasi dibuatnya film kingkong pada tahun 1933.

W. Douglas Burden dicatat sebagai orang pertama yang memberikan nama komodo dragon.

5. Draco Volans

Naga mungkin begitu terkenal, namun semua orang tahu bahwa makhluk ini hanyalah mitos. Sampai hari ini bahkan tak ada satu ekor naga pun yang pernah ditemukan. Jangan kan yang meraung terbang di langit, fosil tubuhnya saja tidak pernah ditemukan.

Memang benar kalau naga hanya makhluk mistis, tapi kenyataannya sebenarnya hewan ini ada. Bukan di Swedia atau Hungaria, naga yang dimaksud ini justru eksis di Indonesia tepatnya di pulau Sumatera. Bukan naga biasa, di pulau ini kita bakal menemukan yang jenisnya bisa terbang.

Naga yang dimaksud adalah salah satu jenis kadal terbang bernama Draco Sumatranus, hewan ini mudah ditemui di daerah hutan dan lingkungan perkotaan, seperti taman atau kebun. Seperti bentuk tubuhnya, naga ini memang benar-benar bisa terbang.

Tak main-main, sekali meloncat ia bisa menjangkau jarak 9 meter jauhnya. Melihatnya melakukan ini kamu seakan menyaksikan sang naga terbang asli, hanya saja yang ini tidak bisa mengeluarkan nafas api.

Hewan ini masuk dalam spesies Kadal Agamid, hewan ini memiliki tulang rusuk dan kulit yang memanjang disisi tubuhnya. Lipatan kulit ini bisa dibentangkan dan memungkinkan draco untuk meluncur diantara batang pohon.

Draco sumatranus memiliki panjang tubuh sekitar 9 hingga 20 cm denga ekor yang menjuntai panjang. Sedangkan kulit tubuhnya yang berwarna abu-abu atau cokelat tua, corak garis-garis, dan pola kulit draco berfungsi untuk membantu penyamarannya di batang pohon.

Meski dalam satu spesies warna kulit draco betina dan jantan berbeda, spesies laki-laki memiliki pola segitiga kuning di bawah dagu. Selain itu juga ada lipatan gular yang digunakan untuk berkomunikasi dengan kadal lain, komunikasi ini kebanyakannya dilakukan untuk perkembang biakkan atau kawin.

Berbeda dengan pejantan, spesies betina memiliki flap yang jauh lebih kecil dan berwarna biru. Hal spesial lain pada hewan ini adalah garis-garis disayapnya, sebab garis-garis mirip pembuluh darah itu ternyata adalah tulang rusuk.

Hewan ini diyakini mengalami berbagai evolusi dari kemunculan awalnya, sehingga lama-kelamaan mempunyai cara mengagumkan untuk menghindari predator, yaitu terbang. Saat ini draco memiliki kemampuan meluncur yang sangat jauh, hal ini ditunjang oleh kemampuan memperluas dan memperkecil lebar dadanya untuk meluncur jauh maupun dekat.

Dengan kemampuan seperti ini, sulit menangkap seekor draco sumatranus. Namun selama ini pemburu bisa menangkap spesies betina saat mereka bertelur, sebab dalam kondisi ini betina akan turun ke tanah untuk menyelamatkan telur-telur yang dikeluarkannya.

Draco biasanya hidup disekitar tiga pohon, mereka menyiapkan sebuah celah kecil sebagai rumah. Di tempat ini sebagian besar hidup draco dihabiskan, mulai dari menemukan makanan, teman hidup, hingga tempat meninggal.

Hanya sang betina yang meninggalkan tempat ini ketika mereka bertelur, untuk melindungi telurnya hewan ini menggunakan moncong runcing untuk menggali lubang di tanah. Sayangnya mereka hanya menunggu telur-telur itu selama 24 jam, selebihnya telur-telur tersebut berjuang sendiri mempertahankan kehidupannya.

Temuan hewan mirip flying dragon di film avatar ini sontak menghebohkan publik, sebab banyak yang berpendapat jika sejenis naga terbang mustahil ada di dunia nyata. Namun kenyataannya foto-foto yang diambil di sumatera di atas membuktikan bahwa ada jenis naga kecil yang benar-benar bisa terbang.

Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hewan-hewan tersebut, apakah sudah mirip meyerupai sang naga atau tidak..?? Semoga dengan ini dapat membantu menambah wawasan teman-semua biar

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
PERHATIAN : Kalian boleh mengcopy paste semua isi dari postingan yang telah kami buat ini. Tapi kalian harus mencantumkan link sumber dari postingan tersebut, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan baik untuk kalian maupun kami.
Disqus Comments